Home / Popular / Sopir taksi memberikan tumpangan gratis, sedih jika mengetahui penyebabnya

Sopir taksi memberikan tumpangan gratis, sedih jika mengetahui penyebabnya

Sopir taksi memberikan tumpangan gratis, sedih jika mengetahui penyebabnya

Bhaca.com – Kisah ini berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri yang sedang berlibur di negara Filipina, di kota Manila. Pada saat itu saya hendak pergi suatu tempat pusat perbelanjaan dari salah satu hotel yang ada di Manila. Seperti orang-orang pada biasanya, memanggil taksi dan memberi tahu tujuan yang kita mau dan argo yang akan menghitung biayanya.

Awalnya semua berjalan biasa, karena kami turis maka sang sopir mengajak kita untuk mengobrol tentang semua tempat-tempat yang ada di Manila. Kami juga sangat senang jumpa sopir taksi yang baik, seakan dia ingin sekali membawa kita untuk berkeliling melihat negaranya yang sangat wow. Karena kami baru kenal, tentu kami tidak akan langsung percaya dengannya, apalagi yang sering mendengarkan kabar bahwa turis harus berhati-hati di Negara Filipina ini. Terutama pada sopir taksinya, mereka kebanyakan dikenal sering menipu orang-orang, tidak menghitung sesuai argo, dan tidak sopan kepada penumpangnya.

Berselang beberapa lama, kami sampai ditempat tujuan yang kita mau. Sayapun melihat argo taksi dan memberikan bayaran saya kepada taksi, tapi  si sopir tidak mau mengambil uang yang kami bayar. Sayapun sempat merasa binggung, dan berpikiran apa sopir taksi ini mau menipu saya. Saya terus menerus memberikan uang yang harus saya bayar sesuai dengan argo yang sudah saya lihat. Tiba-tiba sopir taksi bilang bahwa ia tidak berani uang yang saya bayar, nah lohhh… Sayapun bertanya-tanya kenapa dia tidak berani mengambil uang yang saya bayar, ini kan memang haknya.

Sopir taksi ini pun berkata, “kalian adalah turis dan saya tidak berani mengambil uang kalian berikan. Karena saya buta angka dan buta huruf, saya tidak memiliki pendidikan tentang angka dan huruf,” ucap sopir taksi itu.

Kami tentu tidak percaya begitu saja, kami juga harus berhati-hati. Jika kami menerima tumpangan gratis, bisa-bisa dia menjerit mengundang keramai dan membuat kami harus membayar harga yang lebih besar. Pada akhirnya kamipun bertanya kepadanya, berapa kami harus bayar. Namun dia tetap saja bilang tidak usah bayar, dia ikhlas memberikan tumpangan gratis. Diapun hendak pergi dan meninggalkan kami di pusat perbelanjaan yang kita inginkan.

Saat hendak ia maju, sayapun secara spontan menghentikannya. Tidak tahu kenapa tiba-tiba saya percaya dengan apa yang ia bilang, bahwa ia tidak bisa membaca dan menghitung. Karena penasaran sayapun bertanya. Kalau kamu tidak bisa membaca dan menghitung, bagaimana kamu bisa membawa mobil dan menjadi sopir taksi. ia pun berkata, “Saat masih kecil, saya bukan orang yang beruntung bisa bersekolah seperti anak-anak lain. Saya harus mencari nafkah untuk membantu orang tua saya dengan menjadi kernet bus. Saya beruntung bisa membawa mobil, berkat sopir bus yang dulu saya bekerja telah memberikan kesempatan untuk mengajari saya. Sehingga membuat saya bisa membawa mobil taksi dan mencari nafkah untuk keluarga saya.” ucap sopir taksi ini.

Kemudian saya bertanya lagi, jika kamu memang membutuhkan uang untuk membantu orang tuamu, kenapa tidak kamu ambil bayaran yang kami berikan. Sopir taksi ini berkata, “saya takut di bilang penipu, saya juga sadar di kota Manila ini memang banyak sekali sopir taksi yang menipu penumpangnya. Saya tidak ingin para turis mengadu kepada polisi dan menangkap saya, jika saya tidak bekerja lagi, bagaimana saya bisa menafkahi orang tua saya.” ucap sopir taksi.

Dalam hatiku pun berkata, ternyata sopir ini juga tidak percaya kepada kami. Karena merasa kasihan, sayapun mengatakan ini adalah bayaran yang wajib kami bayar dan sudah sesuai dengan argo. Dia memang menerimanya, raut mukanya terlihat takut saat menerima uang yang kami berikan. Sopir taksi itu pun pergi, namun sebelum ia pergi, saya telah melihat tanda pengenal atau kode taksi itu.

Keesokan harinya saya menelepon perusahaan taksi itu dan memintanya agar menjemput kami. Ntah apa yang ia pikirkan, namun ia terlihat takut dan engan berbicara kepada kami. Saat di mobil sayapun berkata, percayalah dengan kami, kami ini bukan orang jahat yang akan melaporkan kamu ke polisi. Saat itu juga kami memberitahu ia untuk membawa kemana saja yang ia ingin dan syarat tempat itu harus WOW.

Ia pun menyangupinya, dan betapa terkejutnya kami setelah ia mengantar kami ketempat yang memang WOW. Rencana kami berllibur di Manila hanya 3 hari saja, dan melanjutkan perjalan ke kota lain. Namun karena sopir taksi ini bisa memberikan kami kejutan-kejutan yang banyak, akhirnya kamipun berada 10 hari di Manila. Si sopir memang tidak bisa membaca dan menghitung, tapi ia bisa menyenangkan orang lain, bahkan mungkin saja ia bisa membuat orang tuanya senang meski dia bukan orang yang memiliki harta yang banyak.

Sejak bertemu dengan sopir taksi ini, saya terus berpikir orang yang tidak sangup untuk sekolah bahkan takut tertipu bisa berusaha untuk mencari nafkah dengan apa yang dimiliki didirinya. Untuk kamu yang sekolah tinggi-tinggi, bersyukurlah dengan apa yang kamu bisa lakukan. Meskipun susah mencari kerjaan, tapi tidak ada salahnya untuk berusaha terus menerus, dan jangan pernah menyerah. Bisa membaca dan menghitung itu sudah cukup untuk menjadi modal mencari penghasilan, yang penting ada kemauan untuk bekerja keras.