Fenomena Misteri Dibalik Sumpah Pocong

Fenomena Misteri Dibalik Sumpah Pocong
Warga melakukan sumpah pocong di salah satu masjid di Desa Tanjungharapan, Kecamatan Margatiga, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung (Foto: Istimewa)(inews.id)

Bhaca – Sumpah pocong yang konon adalah kebiasaan masyarakat pedesaan adalah sumpah yang dilakukan oleh seseorang dengan situasi terbungkus kain kafan layaknya orang yang telah meninggal.Sumpah ini tidak jarang dipraktekkan dengan tata sistem yang berbeda, seumpama pelaku sumpah tidak dipocongi tapi cuma dikerudungi kain kafan dengan posisi duduk.

Sumpah pocong umumnya dilakukan oleh pemeluk agama Islam dan dilengkapi dengan saksi dan dilakukan di rumah ibadah (mesjid). Di dalam undang-undang Islam sesungguhnya tidak ada sumpah dengan mengenakan kain kafan seperti ini. Sumpah ini adalah kebiasaan lokal yang masih kental mengaplikasikan norma-norma adat. Sumpah ini dilakukan untuk membuktikan suatu tuduhan atau kasus yang sedikit atau malahan tidak memiliki bukti sama sekali.

Di dalam sistem pengadilan Indonesia, sumpah ini diketahui sebagai sumpah mimbar dan adalah salah satu pembuktian yang dilakukan oleh pengadilan dalam memeriksa perkara-perkara perdata, walaupun wujud sumpah pocong sendiri tidak dikuasai dalam undang-undang Hukum Perdata dan Hukum Acara Perdata.

BACA JUGA:  Pemburu Hantu Bilang Setan Malaysia dan Indonesia Lebih Agresif, Ini Alasannya

Sumpah mimbar lahir karena adanya perselisihan antara seseorang sebagai penggugat melawan orang lain sebagai tergugat, umumnya berupa perebutan harta warisan, hak-hak tanah, utang-piutang, dan sebagainya.

Syarat dan cara-cara untuk sumpah pocong

Dalam suatu kasus perdata ada beberapa level bukti yang sesuai diajukan, pertama adalah bukti surat dan kedua bukti saksi. Ada kalanya kedua belah pihak sulit menyediakan bukti-bukti tersebut, seumpama soal warisan, turun-temurunnya harta, atau utang-piutang yang dilakukan antara mendiang orang tua kedua belah pihak beberapa puluh tahun yang lalu.

Apabila hal ini terjadi maka bukti ketiga yang diajukan adalah bukti persangkaan adalah dengan meneliti rentetan kejadian di masa lalu. Bukti ini agak rawan dilakukan. Apabila ketiga tipe bukti tersebut masih belum cukup bagi hakim untuk menentukan suatu perkara maka dimintakan bukti keempat adalah pengakuan.

BACA JUGA:  Inilah Kasus Orang Hilang Paling Misterius di Dunia, Tidak Ditemukan!

Mengingat lokasinya yang paling akhir, sumpah malahan menjadi alat satu-satunya untuk menentukan sengketa tersebut. Jadi sumpah tersebut memberikan dampak seketika terhadap pemutusan yang dilakukan hakim.

Sumpah ada dua tipe adalah Sumpah Suppletoir dan Sumpah Decisoir. Sumpah Supletoir atau sumpah tambahan dilakukan apabila telah ada bukti permulaan tapi belum bisa meyakinkan kebenaran fakta, maka perlu ditambah sumpah.

Dalam situasi tanpa bukti sama sekali, hakim akan memberikan sumpah decisoir atau sumpah pemutus yang sifatnya tuntas, mengatasi perkara. Dengan mengaplikasikan alat sumpah decisoir, putusan hakim akan semata-mata tergantung terhadap bunyi sumpah dan keberanian pengucap sumpah.

Agar memperoleh kebenaran yang hakiki, karena keputusan berdasarkan semata-mata pada bunyi sumpah, maka sumpah itu dikaitkan dengan sumpah pocong . Sumpah pocong dilakukan untuk memberikan dorongan psikis pada pengucap sumpah untuk tidak berbohong.

About Debbie Valerie

Inspirasi: Mimpimu tidak mempunyai tanggal kadaluarsa, Ambil nafas dalam-dalam dan coba lagi.